Puasa Bulan Rajab

Juni 23, 2009 at 8:00 am Tinggalkan komentar

KEDUDUKAN HADITS TENTANG KEUTAMAAN PUASA RAJAB

PENDAHULUAN

Beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dengan tidak
menyekutukan-Nya, berpegang teguh dengan sunnah Nabi-Nya, disiplin
menggunakan pemahaman generasi terbaik umat ini (salafush shalih) dalam
beribadah dan menegakkan syari'atNya merupakan konsekuensi dua kalimat
syahadat yang pernah diikrarkan. Oleh karena itu, jika seseorang mengaku
hamba Allah atau pencinta Rasulullah sementara dalam kenyataan
peribadatannya, akhlak  dan jalan hidup yang ditempuhnya tidak mengambil
Muhammad Rasulullah sebagai tolak ukur berdasar ilmu dan pemahaman yang
dapat dipertanggung jawabkan maka pengakuan orang tersebut harus
ditinjau lagi.

Perhatikan keterangan berikut:

1. Katakanlah: "Jika kamu benar-benar mencintai Allah Subhanahu wa
ta'ala,
maka ikutilah aku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ), niscaya
Allah
mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu." Dan Allah Maha Pengampun
lagi
Maha Penyayang. Katakanlah: "Ta'atilah Allah Dan Rasul-Nya. Jika kamu
berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir"
(Al-Qur'an Surat Ali 'Imran ayat 31-32)

2. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam
itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap
rahmat
Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah
(Al-Qur'an
Surat Al-Ahzaab ayat ke 21) 

Rajab adalah bulan ketujuh dalam urutan tahun Hijriah. Banyak kaum
muslimin
beranggapan bahwa dalam bulan ini terdapat berbagai keistimewaan
tertentu.
Diantara anggapan itu adalah tentang keutamaan puasa  dibulan Rajab.
Untuk
menentukan benar atau tidaknya anggapan tersebut marilah kita periksa
satu-persatu berbagai alasan yang menjadi pegangan mereka.

Sebelum kita memasuki pembahasan, ada baiknya penulis jelaskan beberapa
hal
sebagai berikut :

1. As-sunnah adalah apa yang disandarkan kepada Muhammad Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah berupa ucapan (Qaul), perbuatan
(fi'il), persetujuannya (taqrir) dan sebagainya dengan jalan
periwayatan.

2. Sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam
dianggap benar jika landasan yang digunakan tidak terdapat cacat atau
celaan
menurut kaidah-kaidah ilmu Hadits yang mu'tamad (yang kuat). Seperti
tidak
adanya para perawi pendusta, lemah, dan berbagai cacat lainnya dimana
hal
itu bisa dibuktikan dengan kaidah ilmu hadits tersebut. Dengan kata lain
berbagai alasan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad tetapi bisa
dibuktikan
bahwa sandaran tersebut mengandung cacat dan cela maka hal tersebut
adalah
bukan sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sedangkan orang
yang berbuat hal tersebut termasuk para pendusta atas nama beliau
(na'uudzu
billaah min dzaalik ! )  

PUASA RAJAB, SUNNAH ATAU .....?

Berbagai alasan yang sering dijadikan sandaran mengenai keutamaan puasa
Rajab adalah sebagai berikut:

Alasan Pertama,  

Artinya:

Dari Abu Sa'id al-Khudrie ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam
Pernah bersabda Rajab itu bulan Allah dan Sya'ban itu bulanku sedangkan
Ramadhan itu bulan umatku. Maka barang siapa puasa Rajab dengan iman Dan
ikhlash ia berhak mendapat keridhaan Allah yang amat besar dan Ia akan
tempatkan dia di surga Firdaus yang paling tinggi. Dan siapa yang puasa
Rajab dua hari maka ia akan dapat pahala dua kali dan tiap-tiap pahala
beratnya seberat gunung didunia. Dan siapa yang puasa Rajab tiga hari
maka
Allah akan menjadikan antara dia dan neraka satu parit sepanjang
perjalanannya satu tahun. Dan siapa yang puasa Rajab empat hari maka ia
akan
diselamatkan daripada kecelakaan, penyakit gila, kusta, supak, fitnah
Masiihud Dajjal, dan siksa kubur. Dan siapa yang puasa Rajab enam hari
maka
ia akan keluar dari kuburnya sedang mukanya lebih bercahaya dari bulan
purnama. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka sesungguhnya bagi
neraka
jahannam itu ada tujuh pintu yang tertutup untuknya dengan puasa
tiap-tiap
hari satu pintu dari beberapa pintunya. Dan siapa yang puasa Rajab
delapan
hari maka sesungguhnya surga itu memiliki delapan pintu yang dibuka
Allah
untuknya dengan puasa pada tiap-tiap hari satu pintu dari beberapa
pintunya.
Dan siapa yang puasa Rajab sembilan hari maka ia akan keluar dari
kuburnya
sambil menyeru La ilaaha illallah  dan tidak akan dipalingkan mukanya
dari
surga. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari Allah mengadakan baginya
pada
tiap-tiap satu mil dari jembatan shirathal mustaqim permadani yang
dibuat
istirahat olehnya. Dan siapa yang puasa Rajab sebelas hari maka tidak
ada
orang yang lebih utama dari padanya dihari kiamat selain orang-orang
yang
puasa seperti dirinya atau melebihinya. Dan siapa yang puasa Rajab dua
belas
hari maka Allah akan pakaikan padanya dihari kiamat dua pakaian yang
tiap-tiap pakaian lebih banyak dari dunia dan seisinya. Dan siapa yang
puasa
Rajab tiga belas hari maka ia mendapatkan hidangan dibawah Arsy lalu ia
makan sedangkan orang-orang lain dalam kesusahan yang sangat. Dan siapa
yang
puasa Rajab empat belas hari maka Allah akan memberikan ganjaran yang
belum
pernah dilihat mata, didengar telinga dan ganjaran yang  belum pernah
terlintas dihati manusia. Dan siapa yang puasa Rajab lima belas hari
maka
Allah akan menghubungkannya dengan orang-orang yang selamat Dan tak
seorangpun malaikat atau nabi yang melewatinya kecuali berkata
berbahagialah
engkau, engkau termasuk golongan orang-orang yang selamat (HR. Ibnu
'Adie)

Keterangan: HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU

Dalam rangkaian sanad hadits ini terdapat:

1. Al-Kasa-i yang menurut Imam Suyuthi seorang yang tidak terkenal
dikalangan ahli Hadits.
2. Abu Bakar Muhammad bin Hasan an-Naqas yang dikenal oleh Imam Thalhah
bin
Muhammad Asy-syahid sebagai tukan dusta dalam urusan hadits, dan dikenal
oleh Imam al-Barqani sebagai Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang
diingkari/ditolak riwayatnya), sedangkan Imam Suyuthi memasukkannya
sebagai
rawi (pembawa hadits) pemalsu hadits

Alasan kedua,

Artinya: 

Dari Ali bin Husain ia berkata: "Saya telah mendengar bapakku
mengatakan,
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Bersabda: "Barangsiapa shalat satu
malam
pada bulan Rajab dan puasa disiangnya maka Allah akan memberi makanan
kepadanya dari buah-buahan surga dan akan memakaikannya dengan pakaian
surga
dan akan diberi minuman dari minuman surga kecuali bagi yang berbuat
tiga
perkara: yaitu membunuh orang atau mendengar orang yang minta tolong
pada
waktu malam atau siang tetapi ia tidak menolongnya atau saudaranya
mengadu
kepadanya tetapi ia tidak mau melepaskan kesusahannya (H.R. Ishaaq bin
Ibraahiim al-Khatalie)

Keterangan: HADITS INI TERMASUK HADITS PALSU

Dalam hadits ini terdapat dua orang yang menjadi pembicaraan sebagai
berikut:

Husain bin Mukhariq dikenal oleh Imam Daraquthnie sebagai pemalsu hadits
begitu pula Ishaq bin Muhammad bin Marwan yang menurut Imam Daraquthnie
pula
tidak boleh menjadikan hadits yang diriwayatkannya sebagai alasan untuk
beramal.

Alasan ketiga, 

Artinya:

Dari Anas ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda: Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari maka Allah mencatatnya
seperti puasa satu bulan. Barang siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka
Allah akan menutup tujuh pintu neraka baginya. Barang siapa yang puasa
Rajab
delapan hari maka Allah akan membukakan untuknya delapan pintu surga.
Barang
siapa yang berpuasa setengah bulan Rajab maka Allah menetapkan baginya
keridhalan-Nya dan siapa yang diridhai-Nya maka Allah tidak akan
menyiksanya. Barang siapa berpuasa Rajab sebulan maka Allah akan
menghisabnya dengan hisab yang mudah. (HR. Ibnu Adie)

KETERANGAN:  HADITS INI PALSU

Dalam hadits ini terdapat rawi-rawi sebagai berikut:

1. Aban yang menurut Imam Suyuthi riwayatnya tidak diterima oleh Ahli
Hadits
2. mar bin Azhar  yang dikenal oleh  Imam Ibnu Ma'in sebagai orang yang
tidak boleh dipercaya, Imam Bukhari mengatakannya sebagai orang yang
dituduh
tukang dusta, Imam Nasaa-I dan lainnya mengatakan bahwa ia tidak
diterima
periwayatannya. Adapun Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa Umar bin
Azhar
merupakan salah satu pemalsu hadits.

Selain Ibnu Adie, hadits semakna diriwayatkan pula oleh Imam Abu Syaikh
di
bab Atstsawab, tetapi dalam sanadnya terdapat cacat yaitu: adanya  rawi
yang
bernama Husain bin Alwan yang menurut Imam Yahya bin Ma'in sebagai
seorang
tukang dusta. Imam Alie mengatakan dia itu lemah sekali. Imam Abu Hatim,
Nasaa-i dan Daraquthnie mengatakan bahwa riwayatnya tidak diterima oleh
Ahli
Hadits. Sedangkan Imam Ibnu Hiban menyebutnya sebagai tukang memalsu
hadits.

Alasan keempat,

Artinya :

Dari Ali bin Abu Thalib ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
telah
bersabda: Sesungguhnya bulan Rajab itu adalah bulan yang agung. Barang
siapa
yang puasa Rajab sehari niscaya Allah menulis baginya pahala sebagai
puasa
seribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab dua hari niscaya ditulis
baginya
pahala puasa dua ribu tahun. Barang siapa yang puasa Rajab tiga hari
niscaya
ditulis baginya pahala puasa tiga ribu tahun. Barang siapa yang puasa
Rajab
tujuh hari maka tujuh pintu Jahannam ditutup bagi dirinya. Barang siapa
puasa Rajab delapan hari maka delapan pintu surga dibukakan bagi dirinya
yang dia memasuki dari pintu yang dikehendaki. Dan siapa yang berpuasa
Raja
selama lima belas hari maka kesalahan-kesalahannya diganti dengan
kebaikan
dan dipanggil dari langit: "Allah telah mengampuni dosamu oleh karena
itu
mulailah lagi kamu beramal. Barang siapa yang menambah amalnya niscaya
Allah
yang Maha Mulia dan Maha Tinggi akan menambah pahala baginya" (HR.
Ishaaq
bin Ibraahiim al-Khatalie)

Keterangan: HADITS INI BATIL sebagaimana keterangan Imam Adz-Dzahabie,
karena dalam sanad hadits ini terdapat seorang rawi bernama: Ali bin
Yazid
Ash-Shada-I dimana Imam Abu Hatim menganggapnya sebagai rawi yang
ditolak
riwayatnya

Alasan ke-lima

Artinya :

Dari Abu Dzarr ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
berkata: Barang siapa yang puasa satu hari di bulan Rajab sama dengan ia
berpuasa selama satu bulan. Dan siapa yang puasa Rajab tujuh hari maka
tujuh
pintu neraka ditutup untuknya. Dan siapa yang puasa Rajab delapan hari
maka
delapan pintu surga dibuka untuknya yang dia memasukinya melalui pintu
yang
dikehendaki. Dan siapa yang puasa Rajab sepuluh hari niscaya Allah
Subhanahu
Wa ta'ala menggantikan kesalahannya dengan kebaikan. Dan siapa yang
puasa
Rajab selama delapan belas hari niscaya seorang pemanggil menyerukan
dengan
perkataan bahwa Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maka
perbaharuilah amalmu. (HR. al-Khathiib)

Keterangan: HADITS INI TIDAK SHAHIH (TIDAK SAH)

Dalam sanad hadits ini terdapat beberapa kelemahan:

1. Maimun bin Mahran tidak pernah berjumpa dan mendengar riwayat hadits
dari
Abu Dzarr sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar

2. Al-Farat bin Sa'ab, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Ibnu Ma'in
dan
Daraquthnie. Imam Bukhari mengatakan bahwa riwayatnya itu mungkar
sedangkan
Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan kedalam rawi yang tertuduh sebagai
Pemalsu
Hadits

3. Rasyidin bin Sa'ad, rawi hadits ini pun termasuk rawi lemah

Alasan ke-enam

Artinya :

Dari Anas ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda: Barang siapa puasa Rajab satu hari maka ia seperti berpuasa
satu
tahun. Dan barang siapa puasa Rajab tujuh hari maka tujuh pintu neraka
ditutup untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab delapan hari maka delapan
pintu surga dibuka untuknya. Dan barang siapa puasa Rajab selama sepuluh
hari maka tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah melainkan akan
diberikan
apa yang dimintanya. Dan barang siapa puasa Rajab lima belas hari maka
ia
dipanggil dari langit dengan perkataan Aku telah mengampuni dosamu yang
lalu
karena itu perbaharuilah amalmu dan sesungguhnya Aku telah mengganti
kesalahanmu dengan kebaikan. Dan barang siapa yang menambah, niscaya
Allah
menambah pahala baginya. Dan pada bulan Rajab Nuh naik diatas kapal lalu
ia
berpuasa dan hal itu ia perintahkan kepada orang-orang yang bersamanya
untuk
berpuasa sampai enam bulan hingga akhir yang demikian itu pada sepuluh
hari
pada bulan Muharram (HR. Baihaqie)

Keterangan: HADITS INI TIDAK SAH

Dalam hadits ini terdapat Rawi yang dianggap lemah sebagai berikut:

1. Abdul Ghafur Abu Shabah al-Wasith dikenal oleh Ibnu Adie sebagai
orang
yang lemah dalam urusan hadits dan Munkarul Hadits (Pembawa hadits yang
diingkari/ditolak riwayatnya), begitu juga Imam Ibnu Ma'in menganggap
rawi
hadits ini sebagai orang yang lemah. Imam Bukhari berkata bahwa
Ulama-ulama
hadits tidak suka mengambil riwayatnya sedangkan Imam Ibnu Hibban
memasukkan
rawi hadits ini sebagai kelompok pemalsu hadits.

2. Utsman bin Mathar, rawi hadits ini dilemahkan oleh Imam Abu Daud dan
Imam
Nasaa-I, sedangkan Imam Bukhari menganggap riwayatnya mungkar (wajib
diingkari/ditolak)

3. Abdul 'Aziz bin Sa'id, rawi hadits ini tidak pernah mendengar hadits
dari
Anas sebagaimana kata Imam Dzahabie.

Selain Baihaqie, hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu 'Asakir. Akan
tetapi
dalam riwayat ini terdapat seorang rawi bernama Abdul Mun'im bin Idris
al-Yamanie sedang dia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam
Bukhari. Imam Ibnu Hibban berkata bahwa rawi hadits ini adalah pemalsu
hadits. Adapun Imam adz-Dzahabie mengatakan bahwa rawi ini tidak boleh
dipercaya.

Demikianlah hadits-hadits tentang keutamaan puasa Rajab yang  sementara
dapat penulis kumpulkan. Berdasarkan kaidah-kaidah ilmu hadits ternyata
hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh kebanyakan orang tentang
keutamaan puasa dibulan Rajab ternyata TIDAK ADA YANG SAH bahkan
derajatnya
termasuk HADITS-HADITS PALSU (yaitu ucapan, perbuatan, keutamaan sesuatu
dan
sebagainya yang disandarkan kepada Rasulullah yang dibawakan oleh
orang-orang yang telah dikenal dikalangan ahli ilmu hadits sebagai
tukang
dusta, tukang memalsu hadits dan tidak boleh dipercaya  periwayatannya).
Dengan kata lain, seseorang atau sekelompok orang yang melakukan
peribadatan
dengan tidak didasari keterangan dan pemahaman yang benar maka dia telah
berbuat sesuatu yang tidak ada contohnya. 

Artinya :

Dari 'Aisyah Radhiayallahu 'Anha (semoga Allah meridhainya) bahwa
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: Barang siapa yang
mengadakan
sesuatu dalam urusan agama yang tidak kami perintahkan maka perbuatan
itu
tertolak (tidak diberi pahala bahkan diancam siksa) (HR. Bukhari dan
Muslim)

Dalam kaidah hukum Islam, aktifitas apapun apakah urusan akidah atau
ibadah
jika tidak dikerjakan atau dibenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam maka aktifitas itu dinamakan Bid'ah. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Artinya :

"Maka siapa saja yang hidup sepeninggalku niscaya ia akan menemukan
banyak perselisihan. Oleh karena itu ikutlah sunnahku dan sunnah  para
penerusku yang mendapat petunjuk (al-Khulafaur Raasyidun)...gigitlah (peganglah)
sunnah tersebut kuat-kuat dan jauhilah olehmu perkara-perkara baru yang
diadakan orang karena apa yang diada-adakan tersebut adalah  bid'ah".

Entry filed under: ibadah. Tags: , , , , .

Hukum puasa Rajab HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA DI BULAN RAJAB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Islamic calender

Islamic clock

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 151,504 hits

Klik tertinggi

    Arsip

    Feeds


    %d blogger menyukai ini: