Mengapa harus shalat subuh?

Juni 20, 2009 at 9:52 am Tinggalkan komentar

Oleh Tontowy Djauhari Hamzah
“Dirikanlah shalat di waktu tergelincir matahari
sampai gelap malam,
dan dirikanlah shalat Subuh,
sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan.”
Qs. Al-Israa’ (17) ayat 78.

Ahad lalu saya shalat ‘Ashar berjamaah di mushalla pribadi pak Syamsi. Ikut serta di antaranya Iwan, anak remaja pak Syamsi, dan Adi sahabat Iwan, juga Luthfie dan pak Mustopha Menawi tetangga terdekat keluarga pak Syamsi.

Mushalla pribadi milik pak Syamsi adalah sebuah bangunan semi permanen yang didominasi warna ungu, terletak terpisah dari bangunan utama, dan merupakan bangunan yang berada paling depan.

Dengan menempatkan mushalla di bagian depan, pak Syamsi bermaksud mengingatkan siapa saja yang memasuki pekarangan rumahnya untuk menunaikan kewajiban shalat lima waktu.

Mengapa warna ungu yang dipilih, bukan hijau atau putih? Pak Syamsi menjelaskan, pada dasarnya semua warna adalah ciptaan Allah, dan setiap ciptaan Allah adalah indah. Tidak ada warna hitam khusus untuk kematian, tidak ada warna pink khusus untuk valentine.

Warna ungu bukan pilihan yang disengaja tetapi memang hanya warna itulah yang disumbangkan tetangga sebelah. Dengan alasan, antara lain untuk memberikan efek eye catching, sehingga siapa saja yang melintas di sekitar itu akan memalingkan mukanya dan mengarahkan sorot matanya kepada bangunan bernuansa ungu tadi. Memang bangunan sederhana itu begitu menonjol dibanding bangunan utama yang putih bersih.
Dinding mushalla boleh berbeda warna, namun Islam tetap satu tidak warna-warni. Sarung, kopiah dan baju koko boleh berbeda warna, namun aqidah tetap satu. Islam sejak Nabi Adam Alaihis-Salam hingga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah petunjuk yang satu karena bersumber dari Allahu Ahad.

Seusai shalat ‘Ashar, setelah puji dan doa kepada Allah ditunaikan, Adi bertanya kepada pak Syamsi, “Paman, mengapa kita diwajibkan shalat pada pagi hari sekali (Subuh), bukankah Allah terbebas dari dimensi waktu dan ruang…?”

Menurut Adi, kewajiban shalat pagi hari sekali (Subuh) itu sangat memberatkan dan tidak realistis, mengingat Allah yang kita sembah tidak dipengaruhi oleh dimensi waktu, oleh karenanya kapanpun kita shalat bagi Allah sama saja.

Kesan seperti itu memang khas Adi. Ia adalah mahasiswa baru di sebuah universitas negeri. Adi saat ini sedang sibuk-sibuknya menulis beberapa paper yang ditugaskan dosen-dosennya. Sehingga, ia harus tidur larut dan seringkali sulit bangun ketika adzan Subuh memanggil.

Untungnya Adi punya ibu yang shalehah, yang setiap hari siap menyentakkan tidurnya dan mengingatkan Adi untuk shalat Subuh sejenak, kemudian melanjutkan tidur secukupnya, sehingga Adi punya cukup tenaga untuk melanjutkan menulis paper dan menyimak perkuliahan.

Shalat merupakan kewajiban yang ditentukan Allah (Qs. 2:43). Dan shalat itu merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya (Qs. 4:103). Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah bertasbih, shalat, dan berdoa menurut cara masing-masing (Qs. 24:41).

Kilat yang menyambar-nyambar dan menghasilkan listrik, angin yang berhembus dan menyebabkan terjadinya proses pembuahan pada tetumbuhan, matahari yang berputar dan bersinar sehingga terjadi proses fotosintesis, itu adalah cara mereka bertasbih, berdoa, shalat, ruku’ kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Allah menetapkan ketentuan-Nya kepada makhluk-makhluk itu dengan ketetapan yang paten, pasti, sebuah default tanpa option, sebuah keniscayaan tanpa alternatif. Berbeda dengan itu, Allah memberikan kepada manusia free will. Manusia bisa saja tidak memenuhi kewajiban shalat, dengan risiko digolongkan kafir dan dijadikan penghuni neraka saqar (Qs. 74:42). Itulah ‘kelebihan’ manusia.

Manusia bisa saja merumuskan hukum baru bagi shalat, sebagaimana disesatkan oleh aliran Isa Bugis, yang menyatakan shalat belum wajib karena saat ini umat Islam masih berada pada periode Mekah. Apabila seseorang melakukan shalat pada periode ini, maka ia seperti shalat di tempat sampah. Atau, sebagaimana hasil rumusan kekafiran berfikir yang diproduksi otak Doktor Zainun Kamal dan kawan-kawan, komunitas penganut agama pluralisme liberal, yang mengatakan bahwa kewajiban shalat bukan datang dari Allah, tetapi datang dari kaidah bahasa Arab. Di dalam kaidah bahasa Arab, Aqimus Shalaah adalah kalimat perintah yang mempunyai makna wajib. Dan kaidah bahasa Arab itu sebagaimana juga kaidah bahasa lainnya, adalah buatan manusia.

Seorang Wardah Hafidz tanpa rasa malu dan tanpa beban pernah menyatakan pada sebuah televisi swasta, bahwa ia yang dulu rajin menjalankan shalat dan membaca al-Qur’an, kini tidak lagi mempraktekkan ritual shalat yang dianggapnya konvensional. Baginya, amalan sosial adalah praktek shalat yang sesungguhnya. Ada kemiripan dengan kesesatan yang diajarkan Isa Bugis.

Mungkin Wardah Hafidz banyak mendapat contoh negatif dari lingkungan terdekatnya. Boleh jadi ia sering bergaul dengan orang munafiq yang shalatnya bukan karena Allah, sehingga tak membekas dalam praktek sosial yang riel.

Boleh jadi Wardah Hafidz telah terburu-buru menyimpulkan dan menggeneralisir keberadaan sebuah noktah pada sebah komunitas sebagai bagian utuh yang menyeluruh dari sebuah masyarakat Islam yang luas, padahal seharusnya tidaklah demikian.

Padahal, alangkah bijaksananya bila ia meluangkan sedikit waktu untuk eksplorasi, sehingga memperoleh gambaran riel tentang keberadaan sekelompok orang dalam sebuah komunitas yang selain benar shalatnya juga benar amalan salihnya.

Kepada Adi, Pak Syamsi menjelaskan bahwa waktu-waktu shalat termasuk shalat Subuh merupakan ketetapan Allah, sebagaimana bisa dirujuk kepada Al-Qur’an surat 17:78. Dan Rasulullah hanya menjalankan ketentuan tersebut. Hikmah shalat antara lain melatih kedispilinan dalam soal waktu. (Qs. 11:114).

Sekitar satu jam dua puluh menit sebelum matahari merekah (terbit), itulah yang dinamakan Subuh. Ketika itu, malaikat malam dan malaikat siang berkumpul untuk shalat bersama sebelum berganti tugas.

Mengapa sepagi itu kita diwajibkan shalat? Kepada Adi Pak Syamsi menjelaskan. Bahwa manusia memang makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Namun kesempurnaan itu tergolong relatif, dalam arti tak bebas dari kekurangan bila dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya.

Misalnya, bila dibandingkan dengan ayam, manusia yang sempurna tadi ternyata masih belum mampu menandingi kedisiplinan ayam, yang secara teratur bangun pagi di waktu fajar, yaitu sekitar 10 menit sebelum masuk waktu Subuh atau sekitar satu setengah jam sebelum matahari terbit.

Kepada Adi dan Iwan Pak Syamsi menjelaskan, “kewajiban shalat Subuh yang ditentukan Allah barangkali untuk memberikan pelajaran kepada kita, bahwa sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap sombong, karena sebagian besar dari kita tidak lebih ‘takwa’ dari komunitas ayam.”

Entry filed under: ibadah, Umum. Tags: , , , , , , , .

Mengapa Mudah Melalaikan Kewajiban Shalat? Nasihat untuk Umat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Islamic calender

Islamic clock

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 151,319 hits

Arsip

Feeds


%d blogger menyukai ini: