Amerika tak patut dijadikan teladan

Juni 6, 2009 at 2:45 pm Tinggalkan komentar

Sejak keruntuhan Uni Soviet pada tahun 1991, Amerika Serikat menjadi Negara adidaya yang mencengkram dunia dengan kekuatan super power-nya. Negara yang merdeka pada 4 Juli 1776 ini memiliki pengaruh yang cukup kuat di dunia baik bidang pendidikan, ekonomi, politik, maupun militer. Otomatis, semenjak keruntuhan Uni Soviet, tidak ada lagi negara yang mampu menyaingi perkembangan IPTEK dan militer Amerika. Hal tersebut yang membuat Amerika berusaha menyebarkan pengaruh dan ideologinya ke seluruh negara di dunia.

Di Indonesia sendiri, pengaruh dan ideologi Amerika terasa mencengkram kuat. Hal ini dilihat dari sistem pendidikan, militer, politik, dan ekonomi yang hampir seluruhnya diadopsi dari Amerika.

Kekaguman sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap Amerika pun bukan dikalangan awam saja, namun hingga para cendikiawan dan ilmuwan sekalipun. Jika membahas UU, ekonomi, politik, ataupun militer, maka rujukannya adalah Amerika.

Sang “tauladan” ini sebenarnya tidak pantas untuk ditauladani. Dimulai dari sejarah berdirinya, ekonomi, kehidupan sosial masyarakat, dan sistem politik seluruhnya memiliki “rapot merah”. Walaupun memang, penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan mayoritas berasal dari ilmuwan-ilmuwan Amerika. Kita tidak memungkiri manfaat yang besar dari kemajuan IPTEK tersebut. Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia jarang yang mencontoh dan mempelajari perkembangan IPTEK Amerika. Mereka justru lebih banyak mencontoh sistem ekonomi, gaya hidup, dan politik Amerika yang rusak dan rapuh. Hal ini dapat dilihat dari kemajuan IPTEK Indonesia yang tidak berkembang pesat dan masih terus mengandalkan impor. Sementara dalam gaya hidup, lihatlah mayoritas anak muda negeri ini. Gaya pakaian, musik, film, dan pergaulan banyak meniru ala Amerika. Sistem ekonomi menjurus pada Liberalisme-Kapitalisme. Sementara sistem politik menggunakan demokrasi.

Kita akan mengupas (walaupun tidak tuntas) siapa Amerika?!

NEGARA YANG HOBI PERANG

Amerika memiliki sejarah kelam di dalam membangun peradabannya. Amerika memiliki kebiasaan buruk yang sulit diubah, hobi perang. Awal mula kedatangannya ke Amerika, orang-orang pendatang kulit putih yang “hijrah” dari Inggris, dengan kekuatan militernya melakukan pembantaian massal terhadap suku-suku Indian pribumi Amerika.

Amerika melakukan peperangan menentang kedudukan Inggris pada tahun 1812. Pada tahun 1861-1865, terjadi perang saudara Amerika. Pada abad ke-19, kekuasaan Amerika meluas hingga seluruh Amerika Utara melalui paksaan, kekuatan militer, dan diplomasi. Amerika bersekutu dengan Inggris terjun dalam Perang Dunia I dan II. Setelah Perang Dunia II, Amerika terlibat dalam perang dingin dengan Uni Soviet.

Untuk membendung paham komunis menjalar ke Asia, Amerika pun turut serta dalam perang Korea yang terjadi antara tahun 1950-1953. Amerika membantu Korea Selatan yang pada saat itu tidak berdaya dihajar saudaranya yang berpaham komunis, Korea Utara.

Perang Korea usai pada tahun 1953 setelah Amerika, RRC, dan Korea Utara melakukan perjanjian gencatan senjata. Tak berhenti sampai disitu, perang ideologi antara Liberalis-Komunis pun terus berlanjut. Pada tahun 1957-1975 Amerika kembali angkat senjata untuk membantu Vietnam Selatan melawan Vietnam Utara yang bersekutu dengan Uni Soviet dan RRC.

Amerika yang alergi komunis itu pun ikut membantu persenjataan Afganistan ketika menghadapi Tentara Beruang Merah, Uni Soviet tahun 1979-1989. Namun pada tahun 2001, justru Afganistan dibombardir Amerika yang mulai menderita alergi Islam.

Pada tahun 1990, Irak yang berambisi ingin menguasai Jazirah Arab, mulai mencaplok Kuwait yang dijadikan sebagai provinsi ke-19. Pada 7 Agustus 1990, Saudi yang ketakutan diserang Irak pun meminta bantuan Amerika. PBB mengembargo Irak, dan memerintahkan agar Irak menarik pasukannya dari Kuwait. Irak tetap keras kepala enggan menarik pasukannya dari Kuwait. Amerika angkat senjata menyerang Irak dalam suatu operasi yang bernama Operasi Badai Gurun 17 Januari 1991. Pada 27 Februari 1991, Amerika pun berhasil membebaskan Kuwait dan perang dinyatakan usai.

Amerika kembali menginvasi Irak pada tahun 2003. Dalam peperangan ini, Amerika berhasil menggulingkan rezim Saddam Husein. Hingga saat ini, Amerika masih betah tinggal berlama-lama di Irak. Padahal banyak nyawa tentara mereka yang telah dicabut malaikat maut. Tidak hanya itu, tentara-tentara Amerika banyak pula yang mengalami stress tinggi. Bunuh diri pun dianggap menjadi solusi, karena tanda-tanda mereka segera ditarik dari Irak seolah hanya mimpi. Amerika juga mengalami kerugian materi yang cukup besar sehingga ekonomi mereka pun mengalami sakratul maut.

NEGARA RASIALIS

Selain hobi perang, Amerika merupakan Negara rasialis. Kaum kulit hitam (negro Afrika) mendapat perlakuan diskriminasi dari orang-orang kulit putih. Hal ini tidak berbeda dengan politik Apartheid yang diterapkan Inggris ketika berkuasa di Afrika Selatan. Orang kulit hitam diperlakukan sebagai warga dengan strata sosial terendah. Hal tersebut menyebabkan orang kulit hitam sulit mengakses fasilitas publik, pendidikan, politik, maupun pekerjaan. Martin Luther King, seorang yang memperjuangkan hak-hak orang kulit hitam, mati ditembak oleh James Earl Ray pada 4 April 1968. Penembakan itu tidak lain karena kebencian orang kulit putih terhadap perjuangan King yang membela hak-hak kaumnya yang tertindas.

Benih diskriminasi di Amerika sebenarnya berawal dari perbudakan. Sejak orang-orang Eropa datang ke benua Amerika, mereka membutuhkan tenaga pekerja kasar dalam jumlah besar. Pada tahun 1620, sebuah kapal pertama membawa 20 orang budak dari Afrika. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1865, jumlahnya sudah mencapai 4 juta orang. Orang-orang Afrika ini dirampas kemerdekaannya, diculik, diperdagangkan, dan dipekerjakan tanpa upah diperkebunan-perkebunan.

Orang-orang kulit putih lalu membuat undang-undang yang memberikan hak istimewa kepada kulit putih dan hidup terpisah dengan kulit hitam. Orang-orang kulit hitam hidup terpisah di bagian-bagian tertentu sebuah kota. Mereka tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah-sekolah orang-orang kulit putih, gereja yang terpisah, bahkan makan direstoran atau hotel yang benar-benar dipisahkan (Kasali, 2006).

Walaupun pada saat ini, orang-orang kulit hitam telah memperoleh hak-haknya, namun kasus rasialis di Amerika tetap sering terjadi.

NEGARA FREE SEX TERBESAR

Pola pergaulan sosial remaja di Amerika berada pada tingkat yang sangat parah. Free sex merupakan bagian dari gaya hidup anak muda di Amerika. Tingkat kehamilan remaja dan abortus di Amerika merupakan yang tertinggi di antara Negara-negara industri maju. Jumlah kehamilan untuk ibu yang belum menikah dan berusia dibawah 18 tahun terus meningkat dengan cepat di Amerika sejak tahun 1960-an. Hampir satu juta gadis remaja Amerika hamil tiap tahunnya, dan kebanyakan dari mereka yang berusia kurang dari 15 tahun.

AMERIKA = LINTAH

Lintah merupakan binatang penghisap darah. Jika ia menempel pada tubuh binatang atau manusia, maka lintah akan menghisap darah hingga perutnya buncit. Begitulah sifat Amerika. Amerika menghisap sumber kekayaan alam dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Setiap hari, PT. Freeport Mc Moran mengangkut ribuan ton bongkahan batu yang mengandung konsentrat emas, perak, dan tembaga dari pegunungan Jaya Wijaya. Tidak hanya menghisap kekayaan alam Papua, aktivitas Freeport menyebabkan kerusakan ekologi di daerah sekitar pertambangan. Limbah konsentrat emas, perak, dan tembaga tersebut dibuang ke lembah sekitar sungai Ajkwa, sehingga menghancurkan tanah seluas 200 km persegi disekitar daerah pertambangan (Rais, 2008).

Belum lagi Exxon Mobile, perusahaan minyak Amerika yang rakus menghisap minyak dan gas dari perut bumi Indonesia. Dalam kasus terbaru, Blok Cepu berhasil dikuasai oleh Exxon Mobile, padahal Pertamina mampu untuk mengelola ladang minyak tersebut. Dibelahan dunia lain pun tidak jauh berbeda. Amerika berusaha untuk menguasai kekayaan alam negara-negara berkembang baik di Asia, Afrika, ataupun Timur Tengah dengan segala cara. Misalnya saja di Kazakhstan, Exxon Mobile mendapatkan bagian 25 persen ladang minyak di Tengiz setelah berhasil menyogok Presiden Kazakhstan, Nurlan Balgimbayev.

Amerika juga memeras keringat para buruh pabrik, khususnya di Indonesia. Perusahaan produsen alat olah raga asal Amerika, Nike, mempekerjakan buruh mulai pukul 8 pagi hingga 8 malam, hari Senin sampai Sabtu (terkadang Minggu), hanya dengan upah 1, 25 Dollar (Rp 12.500) per hari (Perkins, 2007).

Selain itu, campur tangan Amerika menyebabkan perekonomian negara-negara berkembang morat-marit. Amerika melalui World Bank dan IMF, memberi hutang kepada negara-negara miskin dengan bunga pinjaman yang besar. Pinjaman dan bunga yang besar menyebabkan negara-negara miskin terlilit hutang.

Negara-negara yang mengalami krisis seperti Indonesia, Argentina, Brazil, dan Rusia, terbukti mengalami kehancuran ekonomi dan terjerat hutang ketika IMF ikut campur tangan dalam kebijakan ekonomi mereka. Negara-negara tersebut (kecuali Indonesia) justru berhasil keluar dari krisis ketika mereka menendang keluar IMF. Argentina semenjak keluar dari jeratan IMF justru berhasil keluar dari krisis. Pertumbuhan ekonominya mencapai 8 persen per tahun. Begitu pula yang terjadi pada Rusia dan Brazil. Mereka berhasil keluar dari krisis tanpa ada campur tangan IMF.

PENUTUP

Amerika adalah negara yang kelihatannya besar namun sebenarnya rapuh. Ekonomi kapitalisnya pun goncang, kehidupan sosial masyarakatnya individualis, politiknya dikuasai lobi-lobi Yahudi, hutangnya pun menggunung, bahkan militernya yang canggih pun tidak mampu mengalahkan para mujahidin di Afganistan dan Irak. Amerika pun mengalami penurunan kualitas sumber daya manusia. Pemuda-pemuda Amerika terjerat pada gaya hidup hedonisme, geng-geng, narkoba, dan free sex.

Teriakan Amerika hanyalah bualan belaka. Amerika berteriak tentang HAM, tapi justru merekalah pelanggar HAM juara satu. Amerika berteriak tentang perdamaian dan keamanan, namun merekalah yang menyalakan api pergolakan. Mereka berteriak tentang keadilan, justru merekalah dalang kedzaliman.

Saudaraku seiman, sebangsa, dan setanah air. Kita harus membuka “mata” bahwa Amerika adalah preman dunia, biang onar yang menyebabkan binatang pun tidak aman hidupnya. Amerika tidaklah pantas ditauladani. Lalu, untuk apa menjadikan Amerika sebagai barometer kesuksesan?

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L., Richard C. Atkinson, Edward E. Smith, Daryl J. Bem. 11th edition. Pengantar Psikologi. InterAksara: Batam

Rais, Mohammad Amin. 2008. Selamatkan Indonesia. PPSK Press: Yogyakarta

Perkins, John. 2007. Pengakuan Bandit Ekonomi Perkins John. Ufuk: Jakarta Selatan

Petras, James. 2008. The Power of Israel in USA terjemah: Retno Wulandari. Zahra: Jakarta

Kasali, Rhenald. 2006. Change!. Gramedia: Jakarta

Majalah Islam Sabili No. 07 Th. XVI 23 Oktober 2008/ 23 Syawal 1429

Suara Islam Edisi 53, Tanggal 24 Oktober-6 November 2008

http://www.wikipedia.org

Entry filed under: Aqidah, ibadah, ilmu hadits, pendidikan Islam, yahudi. Tags: , , , , , , .

Akhir kehidupan Saddam Husein; catatan dan pelajaran Aksi terror israel terhadap Muslim Palestina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Islamic calender

Islamic clock

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 151,319 hits

Arsip

Feeds


%d blogger menyukai ini: