HUKUM SEPUTAR NUSYUZ

Mei 31, 2009 at 9:29 am Tinggalkan komentar

Hukum seputar nusyuz
Soal:
Apa dan bagaimana sebenarnya praktik nusyûz; pengertian, batasan, dan sanksinya?

Jawab:
Nusyûz adalah pelanggaran istri terhadap perintah dan larangan suami secara mutlak. Jika seorang istri tidak melakukan kewajiban semisal shalat, atau melakukan keharaman seperti tabarruj (berpenampilan yang menarik perhatian lelaki lain), maka seorang suami wajib memerintahkan istrinya untuk melaksanakan kewajiban dan meninggalkan keharaman tersebut. Jika tidak mau, berarti dia telah melakukan tindakan nusyûz. Dalam kondisi seperti ini, seorang suami berhak untuk menjatuhkan sanksi kepada istrinya. Dia juga tidak wajib memberikan nafkah kepada istrinya. Jika istrinya telah kembali, atau tidak nusyûz lagi, maka sang suami tidak berhak lagi untuk menjatuhkan sanksi kepada istrinya, dan pada saat yang sama dia pun wajib memberikan nafkah istrinya.
Ketika syariat telah menetapkan hak seorang suami secara umum untuk memerintahkan istrinya melakukan sesuatu, atau melarangnya, syariat juga telah men-takhshîsh beberapa hal dari keumuman tersebut. Misalnya, syariat membolehkan seorang wanita untuk melakukan transaksi bisnis, mengajar, melakukan silaturahmi, pergi ke masjid, menghadiri ceramah, seminar, ataupun kajian. Dengan adanya takhshîsh ini, konteks nusyûz tersebut bisa lebih dideskripsikan sebagai bentuk pelanggaran seorang istri terhadap perintah dan larangan suami, yang berkaitan dengan kehidupan khusus (al-hayâh al-khâshah), dan kehidupan suami-istri (al-hayâh az-zawjiyyah).
Karena itu, di luar semua itu tidak dianggap nusyûz. Artinya, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan umum (al-hayâh al-‘ammâh), seperti jual-beli di pasar, atau belajar di masjid, dan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan suami istri tidak termasuk dalam kategori nusyûz. Jika suami memerintahkan istrinya menyiapkan makanan untuknya, menutup aurat di depan laki-laki lain, memerintahkannya shalat, puasa, mengenakan pakaian tertentu, atau tidak membuka salah satu jendela, tidak menjawab orang yang mengetuk pintu, tidak duduk di beranda rumah, mencuci pakaian suaminya, keluar rumah dan lain-lain yang berkaitan dengan kehidupan khusus, atau kehidupan suami-istri, maka syariat telah memerintahkan seorang istri untuk menaati suaminya dalam perkara-perkara tersebut. Jika dia melanggar dan tidak menaatinya, maka dia layak disebut melakukan nusyûz, dan kepadanya berlaku hukum nusyûz.
Dalam hal-hal yang tidak terkait dengan kehidupan khusus (al-hayâh al-khâshah) dan kehidupan suami-istri (al-hayâh az-zawjiyyah), maka suami hanya berkewajiban untuk memerintahkan istrinya, atau melarangnya; jika istrinya tidak mau menaatinya, maka tidak bisa dianggap nusyûz. Jika seorang suami, misalnya, memerintahkan istrinya menunaikan ibadah haji, membayar zakat, berjihad, bergabung dengan salah satu partai (organisasi), atau melarang istrinya mengunjungi kedua orangtuanya, bersilaturahmi dengan kerabatnya, membuka kios untuk berdagang, datang ke masjid untuk shalat berjamaah, menghadiri seminar, tablig akbar, masîrah dan sebagainya, yang berkaitan dengan kehidupan umum (al-hayâh al-‘ammâh), dan tidak berkaitan dengan kehidupan khusus atau kehidupan suami-istri, maka seorang istri tidak wajib menaati suaminya dalam perkara-perkara tersebut; sekalipun tetap wajib meminta izin kepada suaminya. Hanya saja, adanya izin tersebut tidak mengikat. Nah, ketika seorang istri tidak menaati suaminya dalam hal seperti ini, maka dia pun tidak bisa dianggap nusyûz.
Mengenakan jilbâb (sejenis jubah/abaya) sebagai bentuk pakaian Muslimah di luar rumah merupakan bagian dari kehidupan umum, bukan kehidupan khusus; seperti halnya silaturahim, haji, zakat, atau bergabung dengan partai. Semuanya itu hukumnya wajib bagi wanita. Dalam hal ini, suami tidak berkewajiban untuk memaksa istrinya agar melaksanakan kewajiban tersebut, sepanjang semuanya itu merupakan kehidupan umum dan tidak berkaitan dengan kehidupan suami-istri. Suami memang tidak berkewajiban untuk memerintahkan istrinya, atau melarangnya untuk melaksanakan atau meninggalkannya. Jika suaminya memerintahkan atau melarangnya, sementara istrinya tetap tidak mau untuk menaatinya, maka istrinya tidak boleh dianggap nusyûz, dan suaminya pun tidak berhak untuk menjatuhkan sanksi atas pelanggaran istrinya dalam kasus seperti ini.
Akan tetapi, kalau berkaitan dengan kehidupan khusus, misalnya seorang istri keluar (di ruang tamu) menemui tamu dengan pakaian kerja, dengan rambut terurai, dengan kedua lengan dan bahu terbuka, yang berarti telah melakukan tabarruj, atau berpakaian yang dianggap kurang pantas oleh masyarakat, maka suaminya wajib memerintahkan istrinya atau melarangnya dari hal-hal tersebut. Sebab, semua itu berkaitan dengan kehidupan khusus. Di dalam kehidupan khusus seperti itu dia hanya diperbolehkan untuk berpakain kerja atau membuka auratnya di hadapan mahram-nya.
Karena itu, bisa saja terjadi, seorang istri keluar rumah dengan menutup seluruh auratnya, tetapi tidak dalam bentuk jilbâb, sekalipun suaminya telah memerintahkannya agar berpakaian dalam bentuk jilbâb. Pelanggaran tersebut tidak termasuk dalam kategori nusyûz. Bisa jadi pula seorang istri tetap keluar rumah untuk menghadiri kajian di masjid, atau seminar di kampus, sekalipun suaminya telah melarangnya untuk melakukan kegiatan tersebut. Pelanggaran tersebut juga tidak dianggap nusyûz. Meski demikian, jika di rumah ada kewajiban lain, misalnya mengurus anak, menyiapkan pakaian, makan dan minum suami, maka tidak seharusnya kewajiban tersebut diabaikan, sehingga dia melakukan taqshîr (kelalaian). Dalam konteks seperti ini istri tersebut memang tidak dianggap nusyûz, namun tetap dinyatakan melakukan taqshîr.
Adapun hal lain yang termasuk dalam kategori kehidupan khusus adalah ketika seorang wanita kerja lembur dengan lelaki lain dalam suatu tempat yang bercampur-baur; wanita bepergian dengan suami atau mahram mereka bersama-sama dengan laki-laki lain, baik mereka bersama istri-istrinya atau tidak; wanita belajar dengan laki-laki lain dalam suatu majelis di dalam rumah, sementara untuk masuk ke rumah tersebut diperlukan izin; wanita belajar di sekolah menengah atas, atau yang lain, dan mereka belajar bersama-sama dengan laki-laki lain; wanita bekerja di sekolah atau tempat seperti ini. Semuanya itu masuk dalam kategori kehidupan khusus. Jika suaminya melarang kerja lembur, pergi rekreasi yang bercampur-baur, meninggalkan studi, meninggalkan tugas mengajar atau bekerja—yang semuanya di tempat yang bercampur-baur—maka ketika istrinya tidak menaati perintah dan larangan suaminya, dia bisa dinyatakan nusyûz. Dalam hal ini, suaminya berhak untuk menjatuhkan sanksi tertentu kepada istrinya itu. Pada saat yang sama, suami juga tidak wajib memberikan nafkah kepadanya.
Namun, menghadiri kajian di masjid, ceramah umum, seminar, konferensi, atau Pemilu, semuanya itu merupakan bagian dari kehidupan umum, dan bukan kehidupan khusus. Jika suaminya melarang hadir, lalu istrinya tidak menaati larangannya, maka dia tetap tidak bisa dianggap nusyûz. Karena semuanya itu merupakan bagian dari kehidupan umum, bukan kehidupan khusus, dan tidak berkaitan dengan kehidupan khusus.

Sanksi Nusyûz
Sanksi nusyûz tersebut telah dijelaskan oleh Pembuat syariat. Allah Swt. berfirman:

وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً

Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyûz-nya, maka nasihatilah mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membekas). Jika mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari alasan untuk menghukum mereka. (QS an-Nisa’ [4]: 34).

Jadi, bentuk sanksi tersebut adalah:
(1) menasihatinya dan memberikan peringatan kepadanya;
(2) meninggalkannya di tempat tidur;
(3) memukulnya dengan pukulan yang tidak membekas.

Semua sanksi tersebut ditetapkan sebagai solusi agar seorang istri menaati suaminya. Jika suami ingin menyelesaikannya, penyelesaiannya harus dengan penyelesaian yang telah dinyatakan oleh syariat di atas. Jika dia menyelesaikannya dengan penyelesaian yang lain, misalnya karena faktor kesalahan nusyûz tadi, kemudian dia menceraikan istrinya, maka penyelesaian seperti ini bukan merupakan penyelesaian yang dinyatakan oleh syariat; sekalipun hukumnya mubah.
Di samping itu, ada hal-hal yang seharusnya tetap menjadi perhatian, bahwa kehidupan suami-istri harus memperhatikan terbentuknya kehidupan keluarga yang harmonis, dengan penuh kasih sayang dan cinta kasih. Rasulullah saw. bersabda:

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لاََِهْلِهِ وَاَنَا خَيْرُكُمْ لاَِهْلِيْ»
Sebaik-baik kalian adalah kalian yang paling baik terhadap keluarganya, dan akulah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku. (HR Muslim).

Karena itu, fungsi kepemimpinan (qawâmah) suami terhadap istri adalah fungsi kontrol yang bersifat ri’âyah (mengurus), bukan kontrol pemerintahan, kekuasaan atau sultan. Dalam konteks seperti ini, kita wajib meneladani Baginda Rasulullah saw. Kita harus melihat, bagaimana beliau memperlakukan para istrinya, dan itulah yang seharusnya kita teladani. Kita hanya terikat dengan syariat, bukan dengan akal atau tradisi kita.
Karena itu pula, bagi istri-istri yang melakukan pelanggaran terhadap perintah atau larangan suami di luar konteks nusyûz, jika pelanggaran tersebut termasuk dalam kategori maksiat kepada Allah, semisal tidak mengenakan pakaian dalam bentuk jilbâb di tempat umum, padahal berpakaian seperti ini hukumnya wajib, maka dalam konteks ini negaralah satu-satunya yang berhak menjatuhkan sanksi kepadanya, bukan suaminya. Sebab, sanksi suami hanya berhak dijatuhkan dalam konteks nusyûz, bukan untuk yang lain. []

Oleh: Drs. Hafidz Abdurrahman, MA
Mauidzah saat terjadi nusyuz

Suami adalah nakhoda yang mengatur jalannya bahtera rumah tangga kala mengarungi lautan kehidupan. Maka semestinya ia ditaati bukan dibangkangi, ia seharusnya diikuti bukan dikhianati. Lantas apa yang semestinya dilakukan sang nakhoda kala ada “penumpang”-nya yang menunjukkan sikap pembangkangan?

Perjalanan bahtera rumah tangga tak selamanya bertaburan bunga beraneka warna dengan aroma semerbaknya. Dan tak selalu jalan mulus terbentang di hadapan. Adanya onak duri, kerikil, aral melintang, ataupun badai adalah hal yang lumrah dialami oleh rumah tangga di dunia. Karena demikianlah sunnatullah yang berlaku bagi kehidupan yang fana ini. Hanya pernikahan di surga lah yang selalu indah, selalu bahagia, seiring bersama tanpa problema, berlimpah cinta dan kasih sayang dalam curahan nikmat dan rahmat dari Ar-Rahman. Adapun di dunia, ya… seperti yang telah dirasakan oleh mereka yang telah melalui ‘masa-masa pengantin baru’. Di sana ada ganjalan, di sana ada masalah, di sana ada keluh kesah…
Di antara masalah yang mungkin terjadi adalah ketidakpatuhan istri kepada suami. Mungkin dengan lisan ia berani membantah suaminya ataupun dengan perbuatan, ia berani melanggar perintah suaminya.
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Wanita itu berbeda-beda, di antara mereka ada yang shalihat, Allah k berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Maka wanita-wanita yang shalihat adalah mereka yang taat kepada Allah, taat kepada suami-suami mereka sampai pun suami-suami mereka tidak ada di tempat (sedang bepergian)1, yang demikian itu (dapat mereka lakukan) disebabkan penjagaan Allah terhadap mereka (dan taufik dari-Nya).”2
Wanita-wanita shalihat (seperti yang disebutkan dalam ayat di atas) memiliki akhlak dan adab yang tinggi terhadap suami. Namun di antara wanita ada yang keberadaannya justru sebaliknya, di mana mereka berbuat nusyuz terhadap suami.” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/392)
Secara bahasa nusyuz bermakna irtifa’, tinggi. Istri yang bermaksiat kepada suaminya diistilahkan nasyiz (orang yang berbuat nusyuz) karena pada perbuatannya tersebut ada sikap tinggi dan mengangkat dirinya dari menaati suaminya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Nusyuz istri adalah ia tidak menaati suaminya apabila suaminya mengajaknya ke tempat tidur, atau ia keluar rumah tanpa minta izin suami dan perkara semisalnya yang seharusnya ia tunaikan sebagai wujud ketaatan kepada suaminya.” (Majmu’ Fatawa, 32/277)
Bila terjadi nusyuz dari pihak istri, tindakan apa yang sepatutnya dilakukan oleh sang suami? Apakah langsung memukul si istri atau lebih jauh lagi ia langsung menjatuhkan vonis talak?
Tentunya seorang yang mengaku berpegang dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah akan mengembalikan permasalahannya kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah. Al-Qur`anul Karim telah berbicara tentang hal ini:
وَاللاَّتِي تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Namun bila kemudian mereka menaati kalian maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa`: 34)
Penyembuhan istri yang berbuat nusyuz dilakukan dengan tahapan, tidak langsung memakai cara kekerasan, sebagaimana dikatakan oleh shahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Istri itu diberi mau’izhah kalau memang ia mau menerimanya. Bila tidak, ia didiamkan di tempat tidurnya, bersamaan dengan itu ia tidak diajak bicara.” (Ruhul Ma’ani 5/25, Tafsir Ibnu Katsir, 1/504)
Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam tafsirnya berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka’, maksudnya mereka menarik diri dari menaati suami mereka dengan bermaksiat (tidak patuh) kepada suami, baik dengan ucapan ataupun perbuatan, maka suami hendaknya memberikan ‘pengajaran’ kepada si istri dengan cara yang paling mudah/ringan kemudian yang mudah/ringan. Pertama, “berilah mau’izhah kepada mereka”, dengan menerangkan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara taat dan maksiat kepada suami, memberikan anjuran untuk taat kepada suami serta menakuti-nakuti dengan akibat yang didapatkan bila bermaksiat kepada suami. Bila si istri berhenti dari perbuatannya maka itulah yang dimaukan. Namun bila tetap terus dalam perbuatannya, dalam artian nasihat sudah tidak mempan, barulah beranjak pada tahap berikutnya yaitu (kedua) diboikot/didiamkan di tempat tidur dengan tidak mau “tidur” bersamanya, tidak meng-”gauli”nya sekadar waktu yang dengannya tercapai maksud. Bila tidak berhasil juga, barulah pindah ke tahap selanjutnya yaitu dipukul dengan pukulan yang tidak keras. Apabila telah tercapai tujuan (istri tidak lagi berbuat nusyuz, –pent.) dengan salah satu dari beberapa tahapan di atas dan istri kalian kembali menaati kalian, “maka tidak boleh bagi kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka”, maksudnya adalah telah tercapai apa yang kalian sukai/inginkan, maka janganlah kalian mencela dan mencerca mereka dalam kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu, dan jangan menyelidiki/mencari-cari kesalahan yang akan bermudarat bila disebutkan serta menjadi sebab timbulnya kejelekan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 177)
Dengan demikian, bila tampak kesalahan dan pelanggaran dari istri, yang seharusnya dilakukan suami adalah memberi mau’izhah padanya. Mudah-mudahan dengan cara pertama ini, si istri segera kembali dan memperbaiki diri. Makna mau’izhah adalah mengingatkan seseorang dengan pahala dan hukuman yang dengannya dapat melunakkan hatinya3.
Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan: “Dalam mau’izhah itu ia ditakut-takuti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, diingatkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepadanya berupa keharusan memenuhi hak suami dan keharusan menaatinya, diperingatkan akan dosa bila menyelisihi suami dan bermaksiat kepadanya. Ia juga diancam akan gugur hak-haknya berupa nafkah dan pakaian bila tetap durhaka kepada suami, dan ia boleh dipukul serta di-hajr (diboikot) oleh suami bila enggan menerima nasihat.” (Al-Mughni, kitab ‘Isyratun Nisa`, masalah Idza Zhahara Minha Ma Yukhafu Ma’ahu Nusyuzaha Wa’azhaha…)
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menerangkan bahwa makna mau’izhah adalah mengingatkan istri dengan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bila ia taat kepada suaminya dan sebaliknya ia pasti akan mendapatkan hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala manakala menyelisihi suaminya (tidak taat dalam perkara kebaikan). Suami juga menasihati istrinya dengan menyatakan, “Jika engkau melakukan perbuatan seperti itu, tentunya akan menjadi sebab kebencian di antara kita.” Apabila mereka telah memiliki anak, maka si suami mengingatkan, “Perbuatanmu itu dapat menjadi sebab tercerai-berainya keluarga ini. Bila timbul saling benci di antara kita, sangat mungkin akan menjadi sebab perceraian. Dan kalau sampai kita bercerai, mungkin engkau tidak akan mendapatkan lelaki yang mau menikahimu.” Ataupun kalimat-kalimat yang semisal ini yang dapat membuat si istri insaf dan lunak hatinya untuk menerima nasihat serta peringatan (untuk kemudian berhenti dari perbuatan nusyuz-nya).” (Asy-Syarhul Mumti’, 5/393)
Pensyariatan mau’izhah ini selain ditunjukkan dalam Al-Qur`anul Karim, juga disebutkan dalam As-Sunnah, sebagaimana hadits Abu Hurrah Ar-Raqasyi4 dari pamannya radhiyallahu ‘anhu. Pamannya ini berkata, “Aku memegang tali kekang unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah hari Tasyriq….” Lalu ia menyebutkan hadits yang panjang, dalam hadits tersebut antara lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنْ خِفْتُمْ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ …
“…Maka apabila kalian mengkhawatirkan nusyuz mereka (para istri), berilah mau’izhah kepada mereka, boikotlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras….” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 5/72,73 dengan sanad yang shahih)
Para shahabat, tabi’in, dan ulama yang datang setelah mereka sampai hari kita ini sepakat disyariatkannya mau’izhah ketika istri berbuat nusyuz, tidak ada seorang pun yang mengingkari hal ini5.
Dengan demikian, mau’izhah merupakan kewajiban awal yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin dan kepala rumah tangga untuk meluruskan kebengkokan istrinya dan men-’didik’nya. Kewajiban ini dituntut dari dirinya pada setiap keadaan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Akan tetapi pada keadaan di mana istrinya berbuat nusyuz, pengarahan tertuju secara khusus untuk tujuan yang khusus yaitu mengobati nusyuz yang terjadi, sebelum bertambah besar dan parah. (Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, hal. 312)
Wallahul musta’an. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Ia menjaga diri dan harta suaminya. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 177)
2 An-Nisa`: 34
3 Al-Muthli’ ‘ala Abwabil Muqni’, hal. 330, sebagaimana dinukil dalam kitab An-Nusyuz hal. 36, karya Asy-Syaikh Shalih bin Ghanim As-Sadlan.
4 Diperselisihkan namanya, ada yang mengatakannya namanya Hanifah. (Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal)
5 Al-Ifshah, Ibnu Hubairah, 2/143, sebagaimana dinukil dalam kitab An-Nusyuz hal. 37

PENERAPAN NUSYUZ DARI PIHAK SUAMI
Allah SWT berfirman, ”Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tidak acuh) maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’:128). Sebelumnya manhaj Islam pada pembahasan sebelum ini telah mengatur masalah nusyuz dari pihak isteri dan prosedur yang harus ditempuh guna menjaga keutuhan keluarga. Sekarang manhaj ini mengatur masalah nusyuz dan sikap cuek (yaitu sikap) berpaling yang dikhawatirkan datangnya dari pihak suami, sehingga dapat mengancam keamanan dan kehormatan isteri serta mengancam keselamatan seluruh keluarga. Sesungguhnya hati dan perasaan bisa berubah-ubah. Sedangkan Islam adalah Manhajul Hayah (pedoman hidup) yang dapat mengatur semua bagian kehidupan yang ada di dalamnya, menangani setiap permasalahan yang muncul dalam lingkup prinsip-prinsip dan orientasinya, mendesai masyarakat yang digambarkan dan menumbuhkannya sesuai desain tesebut.
Manakala seorang isteri merasa khawatir akan mendapat perilaku kasar dari suaminya; dan perlakuan yang kasar ini bisa berujung pada perceraian. Atau si suami tidak lagi peduli dan perhatian serta menyepelekan peran isterinya dan tidak pula ditalak, maka tidak mengapa bagi pihak wanita ataupun suaminya jika pihak isteri mengalah sedikit terhadap suaminya menyangkut kewajiban keuangan atau kewajiban-kewajiban penting lainnya. Misalnya, si isteri tidak menuntut sebagian atau keseluruhan dari nafkah yang wajib dibayarkan suaminya. Atau dia tidak menuntut giliran dan malamnya, seandainya sang suami memiliki isteri lain yang lebih di utamakan, apalagi jika dia sendiri, sudah tidak punya, gairah dan respek untuk menjalin hubungan intim dengan suaminya. Semua ini boleh dilakukan atas kemauan sendiri dan telah mempertimbangkan berbagai keadaan, bila dia memandang bahwa langkah ini paling baik dan lebih terhormat baginya dibandingkan dengan melakukan perceraian.
”Dan jika seorang wanita merasa khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya.” (An-Nisaa’:128).
Ini adalah perdamaian yang kami isyaratkan sebelumnya. Kemudian hukum ini diulas bahwa perdamaian secara umum lebih baik daripada perpecahan, perlakuan nusyuz dan perceraian, ”Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).” (An-Nisaa’ :128) selesai.
Selanjutnya Manhaj Islam mendorong pihak suami untuk berbuat baik kepada isterinya yang tetap sayang kepadanya. Oleh sebab itu ia bersedia melepaskan sebagian haknya supaya ia tetap berada di bawah payung kekuasannya, dan manhaj Islam menjelaskan bahwa Allah mengetahui betul kebaikan dan sikap santun sang suami dan Dia akan memberinya balasan yang besar. Allah SWT berfirman, ”Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap cuek), maka sejatinya Allah adalah Maha Mengetahui apa saja yang kamu kerjakan.” (An-Nisaa’:128).
Sebab turunnya ayat diatas diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Hisyam bin Urwah dari bapaknya ia berkata, Aisyah r.a. berkata, ”Wahai anak saudara permpuanku (keponakan), adalah Rasulullah saw. tidak pernah mengutamakan sebagian di antara kami atas sebagian yang lain dalam hal giliran, yaitu beliau istirahat di rumah kami tidak sampai sehari melainkan beliau mengelilingi kami semua sehingga hampir setiap isteri tidak digauli, hingga beliau tiba di rumah isteri yagn mendapat jatah giliran lalu beliau bermalam di sana. Sungguh Saudah binti Zamlah ra, ketika sudah lanjut usianya dan khawatir ditinggal oleh Rasulullah saw berkata: ”Ya Rasulullah, giliran hariku untuk Aisyah, ’Maka Rasulullah saw. menerima pemberian itu dari Saudah.” Aisyah berkata, ’Pada waktu itu dan pada saat-saat yang mirip dengan itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya, ’Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz dari suaminya.” (Hasan Shahih: Shahih Abu Daud no:1868 dan ’Aunul Ma’bud VI:172 no:2121).
Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 608 — 616.

PENERAPAN NUSYUZ DARI PIHAK ISTERI
Allah SWT berfirman, ”Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihat mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisaa’:34). Maka, nasihatilah: ini adalah langkah pertama, mau’izhah (nasihat). Ini adalah kewajiban pertama, yang harus diambil oleh penanggungjawab utama dan kepala rumah tangga. Ini sebuah prosese pendidikan yang harus dilakukan dalam semua kondisi kasus:
”Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari jilatan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim:6).
Namun dalam kondisi ini sendiri, ia mengarah ke arah tertentu untuk tujuan tertentu pula. Yaitu menangani gejala-gejala kedurhakaan sebelum membesar dan terlihat nyata.
Tetapi bisa saja nasihat tidak efektif, karena manusia seringkali dikuasai oleh hawa nafsu, emosi yang berlebihan atau merasa lebih hebat karena kecantikan, kekayaan, kedudukan keluarga atau nilai-nilai lainnya. Sehingga hal-hal itu menjadi isteri lupa bahwa dia adalah mitra dalam sebuah institusi keluarga dan bukan rival (saingan) dalam perseteruan dan ajang kebanggaan. Jika sudah sampai ke tingkat ini maka harus diambil langkah kedua, Yaitu: apabila isteri merasa dirinya lebih tinggi daripada suaminya karena faktor kecantikan, daya tarik dan nilai-nilai yang membuatnya merasa lebih hebat daripada suaminya dan merasa lebih unggul daripada mitranya dalam institusi yang memiliki kepemimpinan yaitu, ”Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka.” (An-Nisaa’:34).
Tempat tidur adalah tempat yang sangat menggoda dan menarik. Di tempat inilah isteri durhaka dan sombong mencapai puncak kekuasaannya. Maka manakala seorang suami berhasil mengalahkan ambisinya dalam menghadapi godaan ini berarti dia telah menaklukkan sang isteri yang pendurhaka, karena itu senjata ampuh yang menjadi kebanggaannya.
Tetapi di sini ada etika tertentu dalam melakukan langkah ini (berpisah di tempat tidur) yaitu: memisahkan isteri hanya di tempat tidur, tidak boleh memisahkannya secara terang-terangan di luar kamar tidur suami isteri. Tidak boleh memisahkannya di hadapan anak-anak karena dapat mengganggu daan merusak jiwa/pikiran mereka. Juga tidak boleh dihadapan orang lain yang merendahkan atau mengusik harga dirinya. Sehingga membuatnya lebih durhaka. Padahal tindakan ini dimaksudkan untuk mengobati kedurhakaannya dan bukan untuk merendahkan isteri serta bukan pula untuk merusak anak-anak. Kedua tujuan inilah yang dimaksudkan dengan tindakan ini.
Namun, bisa juga tindakan kedua ini tidak efektif. Lantas apakah institusi ini dibiarkan berantakan?” Masih ada prosedur lain meskipun lebih keras tetapi lebih ringan dan lebih kecil resikonya dibandingkan kehancuran institusi keluarga secara keseluruhan karena sikap durhaka. ”Dan pukullah mereka.” (An-Nisaa’:34).
Menyertakan semua ma’na terdahulu dan menyertakan tujuan dari semua langkah yang pernah dilakukan tadi dapat mencegah tindakan pemukulan menjadi penyiksaan dengan tujuan balas dendam dan melampiaskan kekesalan juga mencegah tindakan pemukulan menjadi penghinaan yang bertujuan merendahkan dan melecehkan. Mencegah tindakan pemukulan menjadi alat untuk memaksa isteri supaya menerima bentuk kehidupan yang tidak disenanginya dan menetapkan bahwa pemukulan termaksud hanyalah untuk mendidik, disertai dengan kasih sayang seorang pembina dan pendidik, sebagaimana dilakukan oleh seorang bapak terhadap anak-anaknya dan sebagaimana dilakukan oleh seorang pendidik terhadap murid-muridnya.
Langkah-langkah di atas telah diperbolehkan guna mengatasi gejala-gejala nusyuz kedurhakaan sebelum membesar. Namun disamping itu diberi pula peringatan-peringatan agar jangan sampai disalahgunakan setelah tindakan ini ditetapkan dan diperbolehkan. Rasulullah saw. telah memberikan contohnya bagaimana Beliau memperlakukan keluarganya dalam rumah tangga dan kita menyampaikan nasihat dengan kata-kata untuk menghindari terjadinya tindakan berlebihan di sana sini dan untuk meluruskan berbagai pemahaman, dan terdapat banyak hadits yang mengisyaratkan hal tersebut, diantaranya:
Dari Mu’awiyah bin Hairah r.a. bertanya, ”Ya Rasulullah, apa hak isteri seorang diantara kami yang harus ditunaikan suaminya.” Jawab Beliau, ”Kamu harus memberinya makan ketika kamu makan dan kamu harus memberinya pakaian pada waktu kamu berpakain; kamu tidak boleh memukul wajah, tidak boleh menjelekkan(nya) dan tidak boleh memisahkan kecuali dalam rumah,” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1500, ’Aunul Ma’bud VI:180 no:2128, dan Ibnu Majah I:593 no:1850).
Dari Iyas bin Abdullah bin Abi Dzubab r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Janganlah kamu memukul hamba-hamba perempuan Allah (isteri-isteri kamu).” kemudian Umar pergi menghadap Rasulullah saw lalu bertutur.” (Ya Rasulullah), banyak kaum wanita yang telah berani melawan suaminya.” kemudian beliau memperbolehkan memukul mereka. Maka, berdatanganlah kaum wanita kepada keluarga Rasulullah saw untuk mengadukan perilaku suami mereka. Kemudian Rasulullah saw. Bersabda, ”Kaum wanita berduyun-duyun datang kepada keluarga Muhammad saw. mengadukan perilaku suami mereka. Mereka itu (para suami yang keterlaluan dalam memukul mereka) bukanlah orang yang terbaik.” (Hasan Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1615, ’Aunul Ma’bud VI:183 no:2132, Ibnu Majah I:638 no:1985).
Dari Abdullah bin Zama’ah r.a. dia pernah mendengar Nabi saw. bersabda, “Seorang di antara kamu sengaja memukul isterinya seperti budak laki-laki, padahal mungkin dia akan menggaulinya di malam hari.“ (Mutttafaqun ‚alaih: Fathul Bari VIII:705 no:4942, Muslim IV:2091 no:2855 dan Tirmidzi V dan III no:3401).
Bagaimanapun juga langkah-langkah tersebut dibutuhkan batas dimana kita harus berhenti ketika sudah mencapai tujuan pada suatu tahap dari tahapan-tahapan itu. Kita tidak boleh lagi melangkah lebih jauh:
“Kemudian jika mereka telah menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (An-Nisaa’:34).
Ketika tujuannya sudah tercapai, maka sarana ini harus dihentikan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuannya adalah ketaatan yang diinginkan. Ketaatan yang dipaksakan tidak kondusif bagi tegaknya institusi keluarga yang merupakan pangkal bagi sebuah masyarakat. Nash tersebut mengisyaratkan bahwa meneruskan langkah-langkah tersebut setelah terwujudnya keta’atan sama artinya dengan mencari-cari jalan untuk memojokkan isteri, dan dianggap tindakan yang berlebihan (sebagaimana dalam ayat di atas). ”Jangan kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.”
Kemudian larangan ini dilanjutkan dengan mengingatkan orang akan Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar agar hatinya khusyu’ dan kepalanya bertunduk sehingga segala rasa sombong dan angkuh yang menguasai sebagian jiwa manusia itu lenyap. Cara ini merupakan metode al-Qur’an dalam menyampaikan targhib (dorongan) dan dan tarhib (ancaman) (Fi Zhilalil Qur’an II:358-362).
Sumber: Diadaptasi dari ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 608 — 613.

Entry filed under: Aqidah, ibadah, pendidikan Islam, pengetahuan Umum Islam (tsaqafah ammah), Umum. Tags: , , , , , , , , , , , , , , , .

Marinir AS berjatuhan oleh sniper Iraq Sanjungan Syaikh Al-Luhaidan terhadap Syaikh Ahmad Yasin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Islamic calender

Islamic clock

Mei 2009
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 151,246 hits

Arsip

Feeds


%d blogger menyukai ini: