HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA DI BULAN RAJAB

Juni 23, 2009 at 8:04 am 4 komentar

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MASALAH RAJAB

[1]. Imam Ibnul Jauzy menerangkan bahwa hadits-hadits tentang Rajab, Raghaa’ib adalah palsu dan rawi-rawi majhul. [Lihat al-Maudhu’at (II/123-126)]

[2]. Kata Imam an-Nawawy:
“Shalat Raghaa-ib ini adalah satu bid’ah yang tercela, munkar dan jelek.” [Lihat as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 140)]

Kemudian Syaikh Muhammad Abdus Salam Khilidhir, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada’at berkata: “Ketahuilah setiap hadits yang menerangkan shalat di awal Rajab, pertengahan atau di akhir Rajab, semuanya tidak bisa diterima dan tidak boleh diamalkan.” [ Lihat as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 141)]

[3]. Kata Syaikh Muhammad Darwiisy al-Huut: “Tidak satupun hadits yang sah tentang bulan Rajab sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.” [Lihat Asnal Mathaalib (hal. 157)]

[4]. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H): “Adapun shalat Raghaa’ib, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), bahkan termasuk bid’ah…. Atsar yang menyatakan (tentang shalat itu) dusta dan palsu menurut kesepakatan para ulama dan tidak pernah sama sekali disebutkan (dikerjakan) oleh seorang ulama Salaf dan para Imam…”

Selanjutnya beliau berkata lagi: “Shalat Raghaa’ib adalah BID’AH menurut kesepakatan para Imam, tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyu-ruh melaksanakan shalat itu, tidak pula disunnahkan oleh para khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula seorang Imam pun yang menyunnahkan shalat ini, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsaury, Imam al-Auzaiy, Imam Laits dan selain mereka.

Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang itu adalah dusta menurut Ijma’ para Ahli Hadits. Demikian juga shalat malam pertama bulan Rajab, malam Isra’, Alfiah nishfu Sya’ban, shalat Ahad, Senin dan shalat hari-hari tertentu dalam satu pekan, meskipun disebutkan oleh sebagian penulis, tapi tidak diragukan lagi oleh orang yang mengerti hadits-hadits tentang hal tersebut, semuanya adalah hadits palsu dan tidak ada seorang Imam pun (yang terkemuka) menyunnahkan shalat ini… Wallahu a’lam.” [Lihat Majmu’ Fataawa (XXIII/132, 134)]

[5]. Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyyah:
“Semua hadits tentang shalat Raghaa’ib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab adalah dusta yang diada-adakan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan semua hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat pada beberapa malamnya semuanya adalah dusta (palsu) yang diada-adakan.” [Lihat al-Manaarul Muniif fish Shahiih wadh Dha’iif (hal. 95-97, no. 167-172) oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: ‘Abdul Fattah Abu Ghaddah]

[6]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan dalam kitabnya, Tabyiinul ‘Ajab bima Warada fii Fadhli Rajab:
“Tidak ada riwayat yang sah yang menerangkan tentang keutamaan bulan Rajab dan tidak pula tentang puasa khusus di bulan Rajab, serta tidak ada pula hadits yang shahih yang dapat dipegang sebagai hujjah tentang shalat malam khusus di bulan Rajab.”

[7]. Imam al-‘Iraqy yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Ihya’ ‘Uluumuddin, menerangkan bahwa hadits tentang puasa dan shalat Raghaa’ib adalah hadits maudhu’ (palsu). [Lihat Ihya’ ‘Uluumuddin (I/202)]

[8]. Imam asy-Syaukani menukil perkataan ‘Ali bin Ibra-him al-‘Aththaar, ia berkata dalam risalahnya: “Sesungguhnya riwayat tentang keutamaan puasa Rajab, semuanya adalah palsu dan lemah, tidak ada asalnya (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” [Lihat al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 381)]

[9]. Syaikh Abdus Salam, penulis kitab as-Sunan wal Mubtada’at menyatakan: “Bahwa membaca kisah tentang Isra’ dan Mi’raj dan merayakannya pada malam tang-gal dua puluh tujuh Rajab adalah BID’AH. Berdzikir dan mengadakan peribadahan tertentu untuk merayakan Isra’ dan Mi’raj adalah BID’AH, do’a-do’a yang khusus dibaca pada bulan Rajab dan Sya’ban semuanya tidak ada sumber (asal pengambilannya) dan BID’AH, sekiranya yang demikian itu perbuatan baik, niscaya para Salafush Shalih sudah melaksanakannya.” [Lihat as-Sunan wal Mubtada’at (hal. 143)]

[10]. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz, ketua Dewan Buhuts ‘Ilmiyyah, Fatwa, Da’wah dan Irsyad, Saudi Arabia, beliau berkata dalam kitabnya, at-Tahdzir minal Bida’ (hal. 8): “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya tidak pernah mengadakan upacara Isra’ dan Mi’raj dan tidak pula mengkhususkan suatu ibadah apapun pada malam tersebut. Jika peringatan malam tersebut disyar’iatkan, pasti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada ummat, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Jika pernah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti diketahui dan masyhur, dan ten-tunya akan disampaikan oleh para Shahabat kepada kita…

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak memberi nasihat kepada manusia, beliau telah menyampaikan risalah kerasulannya sebaik-baik penyampaian dan telah menjalankan amanah Allah dengan sempurna.

Oleh karena itu, jika upacara peringatan malam Isra’ dan Mi’raj dan merayakan itu dari agama Allah, ten-tunya tidak akan dilupakan dan disembunyikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi karena hal itu tidak ada, maka jelaslah bahwa upacara tersebut bukan dari ajaran Islam sama sekali. Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi ummat ini, mencukupkan nikmat-Nya dan Allah mengingkari siapa saja yang berani mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, karena cara tersebut tidak dibenarkan oleh Allah:

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agama bagimu.” [Al-Maa-idah: 3]

KHATIMAH

Orang yang mempunyai bashirah dan mau mendengarkan nasehat yang baik, dia akan berusaha meninggalkan segala bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka.”
[HSR. An-Nasa'i (III/189) dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Sunan an-Nasa'i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)]

Para ulama, ustadz, kyai yang masih membawakan hadits-hadits yang lemah dan palsu, maka mereka digo-longkan sebagai pendusta.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dari Samurah bin Jundub dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang-siapa yang menceritakan satu hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari dua pendusta.” [HSR. Ahmad (V/20), Muslim (I/7) dan Ibnu Majah (no. 39)]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_______
MARAJI’
[1]. Shahih al-Bukhari.
[2]. Shahih Muslim.
[3]. Sunan an-Nasaa-i.
[4]. Sunan Ibni Majah.
[5]. Musnad Imam Ahmad.
[6]. Shahih Ibni Hibban.
[7]. Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, cet. Mu-assasah ar-Risalah, th. 1412 H.
[8]. Maudhu’atush Shaghani.
[9]. Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[10]. Al-Maudhu’at, oleh Imam Ibnul Jauzy, cet. Daarul Fikr, th. 1403 H.
[11]. Mizaanul I’tidal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: ‘Ali Muhammad al-Bajaawy, cet. Daarul Fikr.
[12]. Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’, oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky.
[13]. Al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh asy-Syaukany, tahqiq: Syaikh ‘Abdurrahman al-Ma’allimy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1407 H.
[14]. Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at, oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani.
[15]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqa-lany, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[16]. Adh-Dhu’afa wa Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[17]. At-Taghib wat Tarhib, oleh Imam al-Mundziri.
[18]. Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
[19]. Al-Laali al-Mashnu’ah, oleh al-Hafizh as-Suyuthy.
[20]. Adh-Dhu’afa wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i.
[21]. Al-Jarhu wat Ta’dil, oleh Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razy.
[22]. As-Sunan wal Mubtada’at, oleh Muhammad Abdus Salam Khilidhir.
[23]. Asnal Mathaalib fii Ahaadits Mukhtalifatil Maraatib, oleh Muhammad Darwisy al-Huut.
[24]. Majmu’ Fataawa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[25]. Al-Manaarul Muniif fis Shahih wadh Dha’if, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
[26]. Tabyiinul ‘Ajab bimaa Warada fiii Fadhli Rajab, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
[27]. Ihya’ ‘Uluumuddin, oleh Imam al-Ghazzaly.
[28]. At-Tahdziir minal Bida’, oleh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.
[29]. Misykaatul Mashaabih, oleh Imam at-Tibrizy, takhrij: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.

Entry filed under: ibadah. Tags: , , , , , , .

Puasa Bulan Rajab Hakikat Salafi

4 Komentar Add your own

  • 1. jamaluddin  |  Juni 26, 2009 pukul 10:52 pm

    Sangat tegas, jelas,dan masuk akal. hanya saja sangat pedas pula ketika saya mendengarnya, saya sangat tersinggung karena saya biasa mengamalkan itu. masak dikatakan bid’ah dan dikatakan sesat. tapi itulah faktanya. ucapkan yang benar meski itu pahit. daripada mengucapkan yang manis-manis tapi malah menjerumuskan. seperti para tukang parkir yang sangat manis dan santun perkataannya di daerah dolly surabaya, lokalisasi WTS. mereka ramah-ramah, manis-manis dan sopan-sopan. tetapi sangat menjerumuskan.

  • 2. Purnama Senja  |  Juli 17, 2009 pukul 1:52 pm

    NAMUN SAUDARAKU …
    JIKA HADITS2 TERSEBUT HANYA DILAKUKAN DAN DIAMALKAN UNTUK IBADAH AGAR LEBIH MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH, MAKA TIDAK ADA SALAHNYA DAN KAMI MENILAI ITU ADALAH BAIK.

    SEPERTI YANG KITA KETAHUI, BID’AH DIBAGI 2 : BID’AH BAIK/HASANAH DAN BID’AH BURUK/SAYYIAH.
    NAH, MELAKSANAKAN IBADAH UNTUK MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DGN MENGAMALKAN HADITS2 YANG TIDAK SHAHIH/MUTAWATIR ITU TERMASUK BID’AH HASANAH. INSYA ALLAH, ALLAH JUGA MENGETAHUI MAKSUD DAN TUJUAN HAMBANYA YANG HANYA UNTUK BERIBADAH KEPADANYA, BUKAN KARENA HAL-HAL LAINNYA.
    SEPERTI HALNYA SHOLAT TARAWIH BERJAMA’AH, TIDAK PERNAH DILAKUKAN RASULULLAH, NAMUN PARA SAHABAT MELAKUKAN SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH SETELAH WAFATNYA RASULULLAH SAW.

    BELUM ADA SATU ULAMAPUN YANG MENGATAKAN TARAWIH BERJAMA’AH ADALAH BID’AH DHOLALAH DAN NERAKA GANJARANNYA. PADAHAL TARAWIH BERJAMA’AH JUGA MERUPAKAN BID’AH.

    WALLAHU A’LAM … :)

    TERIMA KASIH SEBELUMNYA SUDAH MAMPIR. JAZAKALLAHU KHAIRAN ATAS SUMBANGSIHNYA.

    Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitab fathul bari, bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah membagi bid’ah menjadi dua macam. berbeda dengan jumhur ulama’ yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah dhalalah. bid’ah yang hasanah sesuai perkataan Imam Asy-Syafi’i adalah yang sesuai dengan sunnah, sedangkan bid’ah sayyi’ah adalah yang menyalahi sunnah.
    pada definisi di atas, sebetulnya Imam Asy-Syafi’i tetap bersama Jumhur, perbedaan ini hanya perbedaan istilah. tetapi maknanya sama. karena hadis yang dhaif menurut imam Syafii berarti kalau diamalkan menjadikan amalan itu sebagai bid’ah yang sayyiah.
    benar tidak ada ulama’ yang mengatakan bahwa shalat tarawih bid’ah. karena Rasul SAW pernah melakukannya selama tiga hari. beliau tidak melakukannya pada hari selanjutnya karena melihat banyaknya sahabat sementara beliau kawatir ia diwajibkan. makanya beliau shalat sendiri di rumah. jadi shalat tarawih ada dalilnya. cuma di zaman Nabi beliau melakukan 11 atau 13 rakaat dengan bacaan panjang2 hingga kedua tumit beliau bengkak, kemudian di zaman Umar dijadikan Umar menjadi 21 karena melihat kondisi orang-orang. tentunya dengan jumlah rakaat lebih banyak lebih banyak istirahatnya. Allahu a’lam.
    ini sekedar sedikit penjelasan. kapan2 insya Allah di sambung lagi.
    terima kasih atas kunjungannya.

    ya Allah! ampunilah segala dosaku dan dosa seluruh kaum muslimin. berilah hidayah kepadaku juga kepada seluruh saudaraku. amin.

  • 3. naqsho bandia  |  Juni 17, 2010 pukul 6:34 am

    Assalamualaykum wm wb.
    bagaimana dengan penjelasan yang saya copy dari halaman website lain seperti dibawah ini..
    mohon penjelasannya..

    terima kasih
    Naqsho Bandia

    Assalamu’alaikum Wr..Wb..
    sahabat-sahabat yang dirahmati Allah SWT .

    Bismillaahirahmanirrohiim.

    Wahai Saudara-saudaraku yang budiman,

    Bulan Rajab adalah bulannya Allah. Mari kita simak ada apa di balik
    bulan Rajab itu.

    Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Ketahuilah bahwa
    bulan Rajab itu adalah bulan ALLAH, maka:

    * Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan
    ikhlas,
    maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH SWT;

    * Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj ( 21
    Agustus
    2006 ) akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa;

    * Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat
    kemuliaan
    di sisi ALLAH SWT;

    * Barang siapa yang berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3
    Rajab maka ALLAH akan memberikan pahala
    seperti 900
    tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa
    akhirat;

    * Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, insyaallah
    permintaannya
    akan dikabulkan;

    * Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan
    tujuh
    pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan
    dibukakan delapan pintu syurga;

    * Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulan ini, maka ALLAH
    akan
    mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua
    kejahatannya
    dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka
    ALLAH
    akan menambahkan pahalanya.”

    Sabda Rasulullah SAW lagi :

    “Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih
    manis dari
    madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi,
    lalu saya
    bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”
    Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang
    yang
    membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.

    Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita :
    “Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur,
    lalu
    Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian
    beliau
    berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya
    Rasulullah
    mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda :”Wahai Tsauban,
    mereka itu
    sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa
    kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”.

    Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau
    berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab
    niscaya mereka
    tidak akan disiksa di dalam kubur.”

    Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah,apakah hanya berpuasa satu hari dan
    beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari
    siksa
    kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah
    mengutus saya
    sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa
    satu
    hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan
    Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya
    seperti
    berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”

    Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya’ban
    Adalah
    bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan
    berada
    dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi,keluarga nabi
    dan
    orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab,
    Sya’ban dan bulan Ramadhan.

    Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan
    haus
    bagi mereka.”

    Wassalamu’alaikum wr.wb,

    Posted by Yudhi at Wednesday, September 10, 2008

    terima kasih sekali atas kehadirannya di sini. semoga Allah memberi pahala kepada kita semua. mohon disebutkan referensinya dari kitab hadis mana. apakah riwayat Bukhari, Muslim, atau yang mana, kemudian sahih atau tidak. biar lebih memberikan pengetahuan bagi kita semua. syukran katsiran. wassalamu’alaikum.

  • 4. Deby Ari Sandy  |  Oktober 5, 2010 pukul 7:35 am

    Adakah Bid’ah Hasanah ?
    Tidak ada dalam agama ini istilah
    pembagian bid’ah menjadi bid’ah
    hasanah (bid’ah yang baik) dan
    bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelek)
    karena Rasulullah shallallahu alaihi
    wasallam telah menegaskan :
    “Setiap bid’ah adalah sesat dan
    setiap kesesatan tempatnya di
    neraka.” (HR. Muslim dalam
    Shahih-nya, sedang
    tambahannya diriwayatkan
    dalam Sunan Nasa’i)
    Lalu bagaimana dengan ucapan
    Umar radhiallahu anhu ketika
    melihat pelaksanaan shalat tarawih
    secara berjama’ah : “Sebaik-baik
    bid’ah adalah perbuatan ini.”
    (Diriwayatkan oleh Imam
    Bukhari dalam Shahih-nya)
    Maka kita katakan bahwa yang
    dimaukan oleh Umar dengan
    ucapannya tersebut adalah
    pengertian bid’ah secara
    bahasa, bukan secara syari’at,
    karena Umar mengucapkan
    perkataan demikian sehubungan
    dengan berkumpulnya manusia
    dibawah satu imam dalam
    pelaksanaan shalat tarawih,
    sementara shalat tarawih secara
    berjama’ah telah disyariatkan oleh
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
    dimana beliau sempat
    mengerjakannya selama beberapa
    malam secara berjama’ah dengan
    para shahabatnya, kemudian beliau
    tinggalkan karena khawatir hal itu
    diwajibkan atas mereka. Sehingga
    setelah itu manusia mengerjakan
    tarawih secara sendiri-sendiri atau
    dengan jama’ah yang terpisah-pisah
    (berbilang/berkelompok-kelompok).
    Lalu pada masa pemerintahannya
    Umar radhiallahu ‘anhu, Umar
    radhiallahu ‘anhu mengumpulkan
    mereka dibawah pimpinan satu
    imam sebagaimana pernah
    dilakukan di zaman Nabi Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam, karena wahyu
    telah berhenti turun dengan
    meninggalnya beliau Shallallahu
    ‘Alaihi Wa Sallam dan berarti tidak
    ada lagi kekhawatiran diwajibkannya
    perkara tersebut. Dengan demikian
    Umar radhiallahu ‘anhu
    menghidupkan kembali sunnah
    tarawih secara berjama’ah dan ia
    mengembalikan sesuatu yang
    sempat terputus, maka
    teranggaplah perbuatannya tersebut
    sebagai bid’ah dalam pengertian
    bahasa, bukan pengertian syari’at,
    karena bid’ah yang syar’i hukumnya
    haram, tidak mungkin Umar
    radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya
    dari kalangan shahabat melakukan
    hal tersebut, sementara mereka tahu
    peringatan keras dari Nabi
    radhiallahu ‘anhu akan perbuatan
    bid’ah. (Dzahirut Tabdi’, halaman
    43-44)
    Adapun di masa Abu Bakar
    radiallahu anhu, sunnah tarawih
    secara berjama’ah ini tidak sempat
    dihidupkan karena khilafah beliau
    hanya sebentar dan ketika itu beliau
    disibukkan dengan orang-orang
    yang murtad dan enggan
    membayar zakat, demikian
    keterangan Imam Syathibi dalam
    kitabnya Al I’tisham, wallahu
    a’lam.
    Semoga Allah merahmati shahabat
    Nabi, Abdullah Bin Umar radiallahu
    anhuma yang berkata :
    “Setiap bid’ah adalah sesat sekalipun
    manusia memandangnya baik.”

    AHSANTA WA BAARAKALLAHU FIIK YA AKHII…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Islamic calender

Islamic clock

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Blog Stats

  • 108,549 hits

Arsip

Feeds


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: